DPRD Jateng Akan Hapus Target Pendapatan di TBJT

Wakil Ketua DPRD Jateng Sukirman menyampaikan dan mendesak Pemprov Jateng untuk meninjau ulang target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dibebankan pada Pengelola Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Surakarta. Menurut Sukirman, kegelisahan para pelaku dan aktivis seni, khususnya di Solo terkait mendegnya dan melencengnya fungsi TBJT, patut mendapatkan perhatian.

Beban target PAD senilai Rp 524,5 juta untuk Tahun 2017 membuat peran TBJT mulai melenceng. Pengelola akhirnya fokus menarik retribusi dan bukan menghidupkan gairah kesenian di Jawa Tengah. Misalnya, Pendopo Agung TBJT lebih sering dipakai untuk acara pernikahan.

Menurut Sukirman, yang mantan aktor Teater Emka Undip ini, TBJT ini menjadi rujukan even kesenian. Tetapi dari tahun ke tahun TBJT memang sepi. Ternyata salah satu penyebabnya adalah beban PAD yang besar.

Sukirman tidak menyalahkan Pengelola TBJT dengan kondisi itu. Dia tetap melihat pengelola mampu memerankan TBJT sebagai laboratorium seni dan ekspresi. Tetapi dia menginginkan PAD ini jangan menjadi beban. Dulunya, TBJT sangat berkembang, hingga memiliki daya tarik tidak hanya seniman dari Solo, tapi juga Semarang, Yogya, Bandung dan Jakarta.

Mengatasi persoalan itu, Sukirman mengaku sudah berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta segera meminta Komisi E dan Komisi C DPRD Jateng untuk menghitung ulang. Menurut penjelasan Sukirman, Pemerintah boleh menggali sumber pendapatan daerah dengan berbagai potensi dan cara, akan tetapi jangan sampai membebani masyarakat.

Idealnya, imbuh Sukirman, TBJT harus dihidupkan kembali sebagai ruang publik tempat berkumpulnya para seniman dan pelaku budaya, wartawan, akademisi, pemerintah untuk saling tukar gagasan hingga melahirkan karya-karya baru. TBJT harus tetap menjadi sumber kekuatan untuk menjaga kebhinekaan melalui ekspresi dan aktivitas kesenian.