Apa Perkataan ‘Ndeso’ Kaesang Bisa Menjadi Umpatan Serius?

Bagi kita mungkin orang-orang desa diasosiasikan sebagai orang-orang yang bersifat lugu, polos, kadang-kadang naif. Ada kalanya pula nilai-nilai yang dijunjung orang desa justru menjadi rujukan. Di sisi lain, sifat ‘ndeso’ juga bisa menjadi olok-olok dan umpatan kepada orang-orang yang ketinggalan zaman dalam segala aspek.

Kata sifat ‘ndeso’ kini ramai diperbincangkan dan digunakan usai anak Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep, menggunakannya di video blog-nya. Ujaran Kaesang kemudian dilaporkan ke polisi. Agak menjauh dari kegaduhan itu, sebenarnya bagaimana sih makna ‘ndeso’? Apakah sifat ndeso sebegitu hinanya di mata kaum kota?

Tafsir ‘ndeso’

Darmoko dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menjelaskan, ‘ndeso’ berasal dari kata ‘desa’. Huruf ‘a’ dalam penulisan Bahasa Jawa dibaca ‘o’ seperti dalam ‘omong’. Desa merujuk pada suatu wilayah agraris yang berjarak dengan pusat kota. Bila ditampah bunyi pelancar ‘n’ menjadi ‘ndesa/ndeso’, maka maknanya bakal merujuk pada karakteristik yang melekat pada orang-orang desa.

“Itu adalah ekspresi atau ungkapan untuk mengatakah sesuatu yang konotasinya sifat, tutur kata, perilaku, atau tindakan terkait dengan keadaan di desa, juga keadaan manusia yang konotasinya ke arah adat istiadat desa,” tutur pengajar mata kuliah Bahasa Jawa, Wayang, dan Kebudayaan Indonesia untuk Sastra Jawa ini.

Pengertian ‘ndeso’ secara umum memang netral. Namun ‘ndeso’ punya oposisi ‘kutho’ atau ‘kota’ dalam Bahasa Indonesia. Bila kota diasosiasikan identik dengan sifat maju, maka desa identik dengan sifat tertinggal. Dalam konteks perbandingan seperti ini, ‘ndeso’ atau ‘ndesit’ dalam bentuk yang hiperbolik bisa menjadi ungkapan mengumpat.

Term ‘desa’ sebagai teritori memang berasal dari Bahasa Jawa. Masing-masing daerah punya istilah lain yang merujuk pada makna yang kurang lebih sama. Di Sumatera Barat, orang menyebut sebagai ‘nagari’, di Sumatera Selatan ada istilah ‘marga’, di Aceh ada istilah ‘gampong’, dan di Papua ada istilah ‘kampung’. Bahasa Jawa sendiri juga punya konteks dalam menggunakan istilah kampung.

Menurut pengajar sosiologi pedesaan Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Politik UGM, Arie Sudjito, orang desa yang ‘ndeso’ itu malah kadang-kadang bisa menjadi kiblat moral orang-orang kota yang sudah tercerabut dari etika Jawa.

“Ndeso juga punya asosiasi kulltur yang guyub rukun, tidak individualis, tidak aneh-aneh, tidak komersil, pro-ekologi. Ini membedakan dengan sifat orang kota yang individualis,” kata orang yang tujuh tahun ikut menyusun Undang-undang Desa ini lewat tim advokasi RUU itu.

Pada praktik pergaulan sehari-hari, ‘ndeso’ memang dipakai sebagai umpatan yang merujuk pada kualitas negatif: terbelakang, kolot, tertinggal. Namun bagi orang Jawa, umpatan model begitu dipandangnya cuma sebatas guyonan. Bisakah ‘ndeso’ menjadi umpatan mahaserius?

Wong ndeso yang otentik tak bakalan menganggap serius ledekan-ledekan seperti itu. Apalagi bila penggunaannya dalam suasana perbincangan anak muda, menurutnya itu tak akan dianggap serius. Akan tetapi tidaklah bijak dan tepat seorang anak presiden ikut terbawa arus dimana isu agama menjadi trend yang sensitif jiga panas saat ini. Namun bagaimanapun Kaesang adalah orang yang baik mungkin dia cuma terbawa emosi atau pemikiran muda.