Pindahkan Ibu Kota Butuh Waktu Tapi Punya Dampak Positif

Beberapa waktu belakangan, racana pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Palangkaraya di Kalimantan terus bergulir. Pemerataan perekonomian dari Jawa ke luar Jawa, banjir, kemacetan menjadi beberapa pertimbangan perlunya memindahkan ibu kota yang kini tengah dikaji Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Chief Economist SKHA Institute for Global Competitiveness, Erick Sugandi mengakui dampak positif pemindahan ibu kota bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di luar Jawa dan pemerataan pembangunan antardaerah. Proses penyiapan gedung-gedung dan infrastruktur baru di tempat baru akan dorong pertumbuhan ekonomi di lokasi baru tersebut dan daerah-daerah sekitarnya.

Bahkan bila pemindahan ibu kota selesai terlaksana, kota dan propinsi yang dipilih sebagai lokasi baru akan menjadi pusat pertumbuhan baru. Dampak positif lainnya, pemindahan ibukota juga akan meringankan beban Jakarta dari sisi sosial ekonomi. Dari sisi pertahanan, pemerintah akan dipaksa memperkuat pertahanan di ibu kota berada maupun wilayah di sekitarnya.

Meski sulit terlaksana dalam jangka pendek, dia menilai pemindahan ibu kota sebagai ide positif dan masih bisa berjalan sebagai proyek jangka panjang secara bertahap. Ini bila pemerintah sulit melaksanakannya dalam 1 sampai 2 tahun ke depan. Rencana ini mesti matang dan jangan menjadi masalah baru ke pengelolaan defisit APBN. Dan yang penting pemerintah harus dapat persetujuan DPR dulu untuk masukkan anggarannya ke APBN.

Setidaknya, ada tiga lokasi yang tengah dikaji sebagai pengganti Jakarta. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, tiga lokasi tersebut yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Bahkan di Kalimantan Tengah telah ada lahan yang disiapkan seluas 300 ribu hektare (ha) jika rencana tersebut benar – benar terlaksana.