Saling Serang Dalam Politik dan RUU Pemilu 2017

Saling jegal dalam perpolitikan adalah hal yang biasa, lawan politik akan mencoba menghentikan gerakan lawan. Politik juga adalah hal yang kejam karena hanya berisi kemenangan dan kekalahan. Dimana pemenang menjadi penguasa dan yang kalah menjadi pecundang. Bahkan banyak tunas muda potensial didalam politik yang kelak mungkin menjadi pemimpin akan dihilangkan oleh lawan politik.

Dalam sidang Paripurna Kamis (20/7/2017) yang mulanya dipimpin oleh Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon, berubah diambil alih oleh Ketua DPR-RI Setya Novanto, setelah empat fraksi menyatakan walk out dari forum. Keempat fraksi yang menyatakan tidak ikut dalam pengambilan keputusan secara voting malam hari ini yaitu Fraksi PAN, Fraksi Gerindra, Fraksi Demokrat serta Fraksi PKS.

Fadli Zon yang merupakan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra juga ikut walk out. Mungkin mereka merasa bahwa ambang batas hanyalah sebagian cara untuk menghentikan gerakan lawan politik. Tapi perlu diingat walau pilpres dan pileg tidak menjadi satu, bahwa setiap partai yang punya calon Presiden baik dimata masyarakat di pemilihan legeslatif selalu memberi kejutan.

Pasca ditinggal fraksi-fraksi yang walk out, kursi pimpinan sidang hanya tersisa Setya Novanto dan Fahri Hamzah. Fahri mengatakan, dia tetap tinggal karena memiliki pandangan yang berbeda dari partai-partai yang walk out. Kini di tahun 2017 RUU pemilu telah disahkan dimana 4 % untuk minimum kursi Legeslatif dan 20/25% untuk kursi Presiden, RUU disahkan walau sedikit beda dengan putusan MK.